“Aaauuu…!”
Lolongan panjang anjing hutan yang membelah malam mendirikan bulu kuduk. Di malam yang pekat tanpa cahaya rembulan itu, angin bertiup cukup kencang. Awan hitam berarak bergulung-gulung di hamparan langit. Namun, keadaan alam yang nampak tidak ramah itu tidak menyurutkan langkah seorang lelaki tua yang mengenakan pakaian panjang mirip jubah untuk melangkah tertatih-tatih. Melawan hawa dingin.
Lelaki tua berjubah hitam itu melangkah dengan bantuan tongkat dari kayu hitam yang berkeluk-keluk. Tongkat itu tergenggam di tangannya dengan erat. Ditengadahkannya kepala ke atas, memandangi awan yang bergumpal hitam menebal. Dihelanya nafas panjang, sebelum kembali melanjutkan perjalanan, menapak di tanah berumput yang mulai basah.
“Hhh…tunggulah masanya, Cucuku…! Semoga aku belum terlambat !”Lelaki tua itu mendesah pelan, setengah bergumam.
Laki-laki tua itu kembali menyeret langkahnya menembus kegelapan. Usianya yang kelihatannya sudah hampir mencapai satu abad itu tak menghalangi langkahnya, meski tertatih. Dia baru berhenti melangkah setelah tiba di sebuah areal pemakaman di puncak sebuah bukit. Diedarkannya pandangan berkeliling. Cahaya lampu pelita dari rumah-rumah penduduk di bawah bukit, tak memberi penerangan berarti. Di sudut langit, kilat menyambar beberapa kali. Lelaki tua itu menatap lurus pada satu titik. Sebuah gundukan tanah yang dikelilingi beberapa batu kali di sekelilingnya. Meski tanpa nisan, jelas sudah bahwa gundukan itu adalah sebuah kuburan. Jaraknya agak terpisah dari kuburan-kuburan lain.
Lelaki tua itu mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Sebuah alat berbentuk sekop. Setelah memperhatikan keadaan sekeliling, ia mulai menggali gundukan makam. Caranya menggali kuburan menunjukkan kalau ia bukan orang sembarangan. Gerakannya begitu cepat, meski usianya di ambang senja. Terlihat tanah terlempar dari gundukan yang ia gali. Tak sampai sepeminuman teh gerakannya berhenti. Seluruh tubuh lelaki tua itu hampir tenggelam dalam lubang yang digalinya.
Tak lama, sekelebat bayangan melesat dari dalam lubang yang menganga, dan langsung mendarat di tepi lubang. Lelaki tua itu kini berdiri dengan membopong sesosok tubuh yang kotor oleh tanah merah berair. Sukar untuk dikenali tubuh dalam pondongan itu.
“Tak sepantasnya engkau berada di dalam
Sesaat kemudian, lelaki itu sudah melesat dan menghilang di kegelapan malam. Tepat pada saat itu, kilat menyambar lagi di angkasa. Membiaskan cahaya terang. Dan seketika, hujan seolah ditumpahkan dari langit. Mengguyur semesta dan melenakan mimpi-mimpi jelata.
ooo000ooo
Hujan masih saja belum berhenti tumpah di atas langit Desa Batu Jajar, yang merupakan perkampungan nelayan, meski sudah tiga hari berselang. Seluruh kegiatan penduduk kontan terhenti, sebab tidur pulas dalam dekapan selimut adalah pilihan terbaik dalam hujan yang mengamuk beserta hawa dingin yang mampu membekukan tulang. Namun tidak demikian halnya dengan sebuah rumah yang berada agak terpisah dari rumah penduduk yang lain.
Rumah itu tampak agak gelap. Sebuah lampu pelita yang agak meredup memberi penerangan seadanya. Di dalamnya, seorang lelaki tua duduk bersila di sebuah altar hitam yang licin berkilat. Di depannya terdapat sebuah kolam kecil berisi air berasap yang menggolak mendidih. Warnanya putih keruh bagai air susu. Beberapa jenis kembang dan daun-daunan nampak menghiasi air kolam itu. Rumah itu hanya berisikan kolam kecil berisi air menggolak itu dan sebuah dipan dilapisi tikar pandan kusut di sudutnya.
Lelaki tua bermata cekung dan berjenggot putih meranggas itu merapatkan tangannya di dada. Sepasang matanya terpejam, meski lurus menatap air kolam. Mulutnya komat-kamit .
“Bangunlah, Cucuku. Sudah tiga hari kau berada di situ. Bangkitlah…”lelaki tua itu mendesah lirih.
Air kolam bergolak disertai letupan-letupan kecil. Asap mulai menebal di sekitarnya. Tubuh lelaki tua itu mulai bergetar. Keringat mulai menetes dari tubuhnya.
“Bangkit, Cucuku. Cukup sudah derita yang engkau tanggung. Bangkitlah ! Dan balaskan sakit hatimu”
Perlahan, air di dalam kolam berhenti bergolak. Warnanya yang seputih susu mendadak berubah bening. Tak ada lagi asap mengepul, seakan hilang terbawa angin malam. Di dalam kolam, satu sosok yang hanya berlapiskan kain putih usang tampak terbaring. Tubuh itu mengambang naik ke permukaan air, lalu terus naik hingga berada di atas kolam. Si lelaki tua dengan sigap turun dari posisi bersila, dan membopong sosok tubuh yang mengambang itu. Dengan hati-hati, diletakkannya sosok tubuh yang ternyata seorang wanita cantik itu di atas dipan.
Tak beberapa lama, sosok ramping itu membuka matanya. Seringai lebar tersungging di bibirnya. Wajahnya pucat, seolah tak memiliki aliran darah sama sekali. Terlepas dari semua itu, dua gigi runcing yang terlihat saat ia menyeringai, membuat paras cantiknya yang pucat menjadi menakutkan.